KONSELING DI KALANGAN REMAJA
Remaja merupakan sebuah tahapan dalam kehidupan
seseorang yang berbeda diantara tahap anak- anak dengan tahap dewasa. Periode
ini adalah periode ketika seorang anak muda harus beranjak dari ketergantungan
menuju kemandirian, otonomi, dan kematangan. Seseorang yang pada tahap ini akan
bergerak dari sebagai bagian suatu sebaya dan hingga akhirnya mampu berdiri
sendiri sebagai seorang dewasa.
Masa remaja diawali dengan
peristiwa kedewasaan yang sering disebut pubertas.
Pubertas merujuk pada peristiwa-peristiwa biologis yang menyertai menstruasi
pertama pada perempuan, dan enjakulasi pertama pada laki-laki. Peristiwa ini
menandai permulaan dari sebuah proses perubahan fisik yang mendalam.
Selama masa remaja, terjadi
perubahan fisiologi besar dalam diri seorang anak muda. Anak muda trsebut
mengalami peningkatamn tinggi, berat badan, dan kekuatan; berkembang secara
seksual; dan mengalami perubahan dalam penampilannya. Berbagai perubahan ini terjadi
pada usia dan kecepatan yang berbeda-beda pada anak muda satu dengan yang
lainnya. Akibatnya, hal ini akan menimbulkan persoalan bagi anak muda yang
merasa malu, sangat tidak nyaman atas keadaan dirinya, gelisah, dan bingung
bersikap dengan rekan sebanyanya yang mengalami perkembangan yang berbeda
dengannya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan bahwa banyak anak muda merasa
cemas akan penampilan mereka.
Peningkatan besar dan sangat
berarti dalam produksi hormon seksual terjadi selama masa pubertas. Hal ini
berakibat tidak hanya dalam berbagai perubahan pada tubuh, tetapi juga memicu
peningkatan dalam hasrat, nafsu, dan dorongan seksual pada laki-laki maupun
perempuan. Perubahan ini menimbulkan ketidaknyamanan pada seorang anak muda. Bersamaan
dengan peningkatan dorongan seksual, mereka berhadapan dengan isu-isu seperti
seksualitas personal dan identitas seksual.
Sehubungan dengan perkembangan
seksual, beberapa anak muda mengalami kesulitan untuk beranjak dari tahap awal
masa remaja menuju tahap selanjutnya. Hal ini barangkali dikarenakan
ketidakmampuan mereka untuk memisahkan seksualitas mereka sendiri dari
seksualitas orang tua mereka. Akibatnya mereka terjebak dalam fantasi seksual
yang tidak membantu mereka, sehingga gagal mengarahkan mereka pada pasangan
non-inses.
Selama remaja, peningkatan hormon
seksual bisa memengaruhi emosional anak muda. Bagaimanapun, adalah salah untuk
berasumsi bahwa hormon berfungsi secara terpisah dan bahwa hormon merupakan
satu-satunya faktor penyebab perubahan suasana hati. Hormon berperan secara
berdampingan dengan perubahan besar lainnya yang memberi dampak pada anak muda,
seperti perubahan dalam hubungan sosial, perubahan dalam kepercayaan dan
perilaku, dan perubahan pandangan diri.
Dari semua perubahan diatas, dapat
kita ketahui bahwa fase remaja merupakan fase yang bisa dibilang fase sangat
rentan bagi seseorang untuk dapat mengalami hal-hal yang negatif jika tidak
disertai bimbingan disetiap perubahannya. Karena pada masa remaja pada umumnya
berada di usia bangku Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas. Sehingga,
peran guru BK di tingkat tersebut sangatlah penting, karena jika salah
membimbing siswanya di sekolah, siswa tersebut akan menjadi pribadi ataupun
kelompok yang menyimpang, karena perubahan yang terjadi pada dirinya tidak
disertai bimbingan-bimbingan yang mampu menjaga mereka dari tindakan-tindakan
negatif.
Sumber :
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Mappiare. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar