Kamis, 09 Oktober 2014

ARTIKEL KE-3

  KONSELING DI KALANGAN REMAJA

    Remaja merupakan sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berbeda diantara tahap anak- anak dengan tahap dewasa. Periode ini adalah periode ketika seorang anak muda harus beranjak dari ketergantungan menuju kemandirian, otonomi, dan kematangan. Seseorang yang pada tahap ini akan bergerak dari sebagai bagian suatu sebaya dan hingga akhirnya mampu berdiri sendiri sebagai seorang dewasa.


Masa remaja diawali dengan peristiwa kedewasaan yang sering disebut pubertas. Pubertas merujuk pada peristiwa-peristiwa biologis yang menyertai menstruasi pertama pada perempuan, dan enjakulasi pertama pada laki-laki. Peristiwa ini menandai permulaan dari sebuah proses perubahan fisik yang mendalam.


Selama masa remaja, terjadi perubahan fisiologi besar dalam diri seorang anak muda. Anak muda trsebut mengalami peningkatamn tinggi, berat badan, dan kekuatan; berkembang secara seksual; dan mengalami perubahan dalam penampilannya. Berbagai perubahan ini terjadi pada usia dan kecepatan yang berbeda-beda pada anak muda satu dengan yang lainnya. Akibatnya, hal ini akan menimbulkan persoalan bagi anak muda yang merasa malu, sangat tidak nyaman atas keadaan dirinya, gelisah, dan bingung bersikap dengan rekan sebanyanya yang mengalami perkembangan yang berbeda dengannya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan bahwa banyak anak muda merasa cemas akan penampilan mereka.


Peningkatan besar dan sangat berarti dalam produksi hormon seksual terjadi selama masa pubertas. Hal ini berakibat tidak hanya dalam berbagai perubahan pada tubuh, tetapi juga memicu peningkatan dalam hasrat, nafsu, dan dorongan seksual pada laki-laki maupun perempuan. Perubahan ini menimbulkan ketidaknyamanan pada seorang anak muda. Bersamaan dengan peningkatan dorongan seksual, mereka berhadapan dengan isu-isu seperti seksualitas personal dan identitas seksual.


Sehubungan dengan perkembangan seksual, beberapa anak muda mengalami kesulitan untuk beranjak dari tahap awal masa remaja menuju tahap selanjutnya. Hal ini barangkali dikarenakan ketidakmampuan mereka untuk memisahkan seksualitas mereka sendiri dari seksualitas orang tua mereka. Akibatnya mereka terjebak dalam fantasi seksual yang tidak membantu mereka, sehingga gagal mengarahkan mereka pada pasangan non-inses.


Selama remaja, peningkatan hormon seksual bisa memengaruhi emosional anak muda. Bagaimanapun, adalah salah untuk berasumsi bahwa hormon berfungsi secara terpisah dan bahwa hormon merupakan satu-satunya faktor penyebab perubahan suasana hati. Hormon berperan secara berdampingan dengan perubahan besar lainnya yang memberi dampak pada anak muda, seperti perubahan dalam hubungan sosial, perubahan dalam kepercayaan dan perilaku, dan perubahan pandangan diri.


Dari semua perubahan diatas, dapat kita ketahui bahwa fase remaja merupakan fase yang bisa dibilang fase sangat rentan bagi seseorang untuk dapat mengalami hal-hal yang negatif jika tidak disertai bimbingan disetiap perubahannya. Karena pada masa remaja pada umumnya berada di usia bangku Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas. Sehingga, peran guru BK di tingkat tersebut sangatlah penting, karena jika salah membimbing siswanya di sekolah, siswa tersebut akan menjadi pribadi ataupun kelompok yang menyimpang, karena perubahan yang terjadi pada dirinya tidak disertai bimbingan-bimbingan yang mampu menjaga mereka dari tindakan-tindakan negatif.


Sumber :
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 
 
Mappiare. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar