Bismillahirahmanirahim. Untuk melengkapi Tugas dari Ibu Ummah Karimah selaku dosen mata kuliah 'BK pada Jalur Jenjang dan Jenis' maka saya posting artikel berikut :
Nama : Muhammad Revi Cahyadityano
NIM : 1301015086
BIMBINGAN KONSELING DI PAUD
Perkembangan masyarakat, pendidikan,
dan ilmu pengetahuan dewasa ini membawa fakta bahwa program bimbingan konseling
di PAUD sama pentingnya dengan bimbingan konseling di sekolah menengah. Hanya
saja, tekanan di antara keduanya berbeda; tekanan masing-masing bimbingan dan
konseling selalu di sesuaikan dengan taraf atau jenjang pendidikan anak didik
yang bersangkutan. Program bimbingan dan konseling di bebagai lembaga
pendidikan (termasuk di dalam PAUD) merupakan program bimbingan yang bermanfaat
secara positif, tidak sekedar reaktif dan korektif. Terlebih lagi, jika program
bimbingan ini bersifat kontinu, berkelanjutan, dan terus-menerus, mulai dari
PAUD hingga perguruan tinggi, bahkan sampai di masyarakat. Tentu, hasilnya akan
jauh lebih baik daripada bimbingan yang sifatnya eksiden semata. Tetapi,
penekanan bimbingan dan konseling dapat berubah-ubah, sesuai dengan kebutuhan
anak didiknya atau sesuai dengan taraf perkembangannya. Atas dasar ini, maka
bimbingan konseling di PAUD tidak boleh hanya berfokus pada tumbuh kembangnya
anak secara normal dan kompetensi Calistung semata, melainkan juga harus
menemukan jati diri anak didik yang unik dank has, sesuai dengan
kepribadiannya. Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak
usia dini atau lembaga PAUD. Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri
akan sangat membantu mereka dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan-lingkungan baru yang akan dihadapi. Disamping itu, penemuan jati
diri atau kepribadian anak didik dapat membantu mereka dalam mengembangkan
bakat, minat, dan potensinya. Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan
konseling di lembaga PAUD tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai
perilaku bermasalah, melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang
dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan demikian, konseling bukan
hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga juga
tindakan untuk memnuhi kebutuhan tumbuh kembangya anak secara maksimal. Pada bimbingan
yang bersifat preventif, kesehatan mental, dan pengembangan diri dari pada
bimbingan yang menitikberatkan pada psikoterapi maupun diagnosis terhadap
perilaku bermasalah. Terlebih lagi, ketika para psikolog telah menyadari betapa
pentingnya melakukan identifikasi sejak dini terhadap perilaku bermasalah pada
anak-anak. Dengan melakukan identifikasi ini diharapkan anak-anak dimasa depan
tidak akan mengalami hambatan dalam belajarnya, terlebih lagi gangguan pada
mentalnya. Nah, momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi
ini adalah pada masa-masa awal usia dini atau di lembaga PAUD.
Sasaran,
Sifat, & Prinsip BKS pada PAUD
1.
Sasaran BKS pada PAUD Pada dasarnya
sasaran pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah anak usia dini ialah pribadi
siswa secara perseorangan. Ini tidaklah berarti bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling bersifat individualistis yang mengutamakan kepentingan individu di
atas segalagalanya, melainkan bimbingan dan konseling mempunyai sasaran
mengembangkan apa yang terdapat pada diri tiap-tiap individu secara optimal
agar masing-masing individual dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya
sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Dalam setiap kegiatannya
pelayanan bimbingan dan konseling, meskipun kegiatan itu berupa kegiatan
kelompok misalnya, berusaha untuk membina satu atau beberapa kemampuan pribadi
individu yang dibimbing itu dalam berbagai aspeknya, yaitu aspek akademik,
sosial, emosional, sikap, keterampilan dan sebagainya. Lebih khusus lagi, sasaran
pembinaan pribadi siswa melalui pelayanan bimbingan dan konseling meliputi
tahap-tahap pengembangkan kemampuan-kemampuan:
(a)
Pengungkapan, Pengenalan, dan Penerimaan Diri Pribadi yang mantap dan
berkembang dengan baik ialah apabila individu yang bersangkutan benar-benar
sadar tentang dirinya sendiri. Kesadaran tentang diri sendiri ini akan tercapai
apabila kemampuan pengungkapan diri dapat berkembang dengan baik. Seringkali
kemampuan pengungkapan diri tidak serta merta timbul pada diri seseorang, melainkan
memerlukan bantuan orang lain. Seseorang harus tahu batas-batas kemampuannya
sendiri, apa-apa yang dia mampu dan tidak mampu, harus tahu tentang bakat dan
minatnya, harus tahu tentang keadaan dirinya baik jasmaniah maupun rohaniah,
dan sebagainya. Hasil pengungkapan diri yang objektif merupakan dasar yang
sehat untuk mengenal diri sendiri sebagaimana adanya yang selanjutnya menjadi
titik tolak bagi penerimaan diri sendiri. Pribadi yang sehat ialah apabila dia
mampu menerima dirinya sebagaimana adanya dan mampu mewujudkan hal-hal positif
sehubungan dengan penerimaan diri itu.
(b) Pengenalan Lingkungan Sebagaimana diketahui
hidup manusia ialah dalam hubungannya dengan lingkungannya. Seorang individu
tidak hanya dituntut untuk mengenal diri sendiri, melainkan juga dituntut untuk
mengenal lingkungannya.
(c)
Pengambilan Keputusan Pengambilan
keputusan hendaknya dilakukan oleh individu itu sendiri atau setidaktidaknya,
apabila pengambilan keputusan itu diprakarsai oleh orang lain (misalnya oleh
konselor), keputusan itu hendaknya disetujui oleh individu yang dibimbing.
Tujuan akhir bimbingan dan konseling ialah agar individu yang dibimbing mampu
mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
(d)
Pengarahan Diri Keputusan yang diambil di atas hendaknya diwujudkan dalam
bentuk kegiatan nyata. Bagaimanapun bagusnya keputusan apabila tidak dijalankan
tidaklah ada faedahnya. Individu yang bersangkutan harus berani menerjunkan
dirinya untuk menjalani keputusan yang telah diambilnya untuk dirinya sendiri
itu.
(e)
Perwujudan Diri Setiap individu hendaknya mampu mewujudkankan diri sendiri
sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar dan kemungkinan-kemungkinan yang
dimilikinya. Perwujudan diri ini hendaknya terlaksana tanpa paksaan dan tanpa
ketergantungan pada orang lain. Di samping itu perwujudan diri haruslah
normatif, artinya sejalan dengan norma dan nilai - nilai yang berlaku di dalam
masyarakat.
2. Sifat BKS pada PAUD Sifat-sifat yang
terdapat dalam bimbingan dan konseling, diantaranya:
a)
Pencegahan, yaitu sifat bimbingan dan
konseling yang menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari
berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu,
menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam
proses perkembangannya.
b) Penyembuhan, yaitu sifat bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai
permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
c)
Perbaikan, yaitu sifat bimbingan dan
konseling untuk memperbaiki kondisi individu dari permasalahan yang dihadapinya
sehingga bisa berkembang secara optimal.
d)
Pemeliharaan, yaitu sifat bimbingan
konseling untuk menjaga terpeliharanya kondisi individu yang sudah baik tetap
baik.
e)
Pengembangan, yaitu mengembangkan
berbagai potensi dan kondisi positif individu dalam rangka perkembangan dirinya
secara mantap dan berkelanjutan.
3.
Prinsip-Prinsip BKS pada PAUD
Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada anak usia dini, yaitu:
a.
Bimbingan merupakan bagian penting dari
proses pendidikan.
b.
Bimbingan diberikan kepada semua anak dan
bukan hanya untuk anak yang menghadapi masalah.
c.
Bimbingan merupakan proses yang menyatu
dalam semua kegiatan pendidikan.
d.
Bimbingan harus berpusat pada anak yang
dibimbing.
e. Kegiatan bimbingan mencakup seluruh kemampuan
perkembangan anak yang meliputi kemampuan fisik-motorik, kecerdasan, sosial maupun
emosional.
f.
Bimbingan harus dimulai dengan mengenal
(mengidentifikasi) kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan anak.
g. Bimbingan harus fleksibel dan sesuai dengan
kebutuhan serta perkembangan anak.
h.
Dalam menyampaikan pemasalahan anak
kepada orang tua hendaknya menciptakan situasi aman dan menyenangkan, sehingga
memungkinkan terjadinya komunikasi yang wajar dan terhindar dari
kesalahpahaman.
i.
Dalam melaksanakan kegiatan bimbingan
hendaknya orang tua diikutsertakan agar mereka dapat mengikuti perkembangan dan
memberikan bantuan kepada anaknya dirumah.
j.
Bimbingan dilakukan seoptimal mungkin
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki guru atau pendamping sebagai pelaksana
bimbingan, bilamana masalah yang terjadi perlu ditindak lanjuti, maka guru pembimbing
harus mengonsultasikan kepada kepala sekolah dan tenaga ahli.
k.
Bimbingan harus diberikan secara berkelanjutan.
4. Ruang Lingkup BKS pada PAUD Ruang lingkup
bimbingan untuk anak usia dini, diantaranya:
1)
Bimbingan Pribadi dan Sosial Bimbingan ini dimaksudkan untuk
mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan
pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan b ersosialisasi dengan lingkungan
secara baik. Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalahmasalah
pribadi sosial.
2)
Bimbingan Belajar Merupakan bimbingan yang diarahkan untuk
membantu para anak dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta
mencapai tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain
sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan
perilaku.
3)
Bimbingan karir Bimbingan yang membantu anak dalam
perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir, seperti
pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan
kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan
karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi
secara sederhana.
Sedangkan
ruang lingkup layanan bimbingan bagi anak usia dini terdiri atas 5 bentuk
layanan, yaitu:
1) Layanan
Pengumpulan Data Layanan pengumpulan data dimaksudkan untuk menjaring
informasi-informasi yang diperlukan guru atau pendamping anak usia dini dalam
memahami karakteristik, kemampuan dan permasalahan yang mungkin dialami anak.
Data ini penting karena untuk memberikan bantuan terhadap anak.
2) Layanan
Informasi Layanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman
baik untuk anak maupun bagi orang tua. Untuk anak usia dini yang relatif masih
usia muda, masih sangat sedikit informasi atau pengetahuan yang diketahui dan
dipahami anak. Sebaliknya bagi orang tua melalui layanan informasi ini
diharapkan dapat menambah wawasan khususnya yang berkaitan dengan tumbuh
kembang anak.
3) Layanan
Konseling Layanan konseling dimaksudkan untuk memberikan bantuan bagi anak yang
diduga mengalami masalah tertentu, baik yang menyangkut masalah pribadi, sosial
ataupun masalah lainnya. Proses konseling pada anak usia dini berbeda dengan
konseling yang dilakukan pada remaja atau orang dewasa. Layanan konseling
dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah seperti yang diungkapkan dalam
uraian terdahulu yaitu melakukan : identifikasi masalah, diagnosis, prognosis,
treatment, dan evaluasi tindak lanjut.
4) Layanan
penempatan Layanan penempatan, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan anak
memperoleh penempatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan potensinya. Melalui
layanan ini anak dapat berada pada posisi dan pilihan yang tepat.
5) Layanan
evaluasi dan tindak lanjut Layanan evaluasi dan tindak lanjut merupakan layanan
untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanganan yang telah dilakukan guru atau
pendamping. Ukuran keberhasialan suatu layanan bimbingan dan konseling dapat diliahat
dari seberapa jauh perubahan prilaku yang terjadi pada anak.
Sumber :
Tohirin.
2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi).
Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
Zainal
Aqib. 2012. Ikhtisar Bimbingan & Konseling di Sekolah. Bandung. Penerbit
Yrama Widya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar